Bukan Tinta Merah: Kenapa Orang Korea Pantang Menulis Nama Begitu
Pulpen merah boleh untuk mengoreksi PR. Untuk menulis nama, lain cerita. Ini asal-usul pantangannya dan warna yang sebaiknya dipakai.

Bayangkan kamu sedang menulis kartu ulang tahun di sebuah kantor di Korea. Satu-satunya pulpen di dekatmu berwarna merah, kamu mulai menulis nama rekan kerja, lalu seseorang buru-buru menyodorkan pulpen hitam. Tidak ada yang marah. Kamu hanya baru bertemu salah satu pantangan paling terkenal di Korea: jangan menulis nama orang yang masih hidup dengan tinta merah.
Jawaban singkatnya, warna merah sudah lama dikaitkan dengan nama orang yang telah meninggal. Secara tradisional, nama yang ditulis merah bisa dibaca sebagai tanda bahwa orang itu sudah tiada, sehingga menulis nama orang hidup dengan cara itu terasa seperti mendoakan hal buruk baginya. Kepercayaan rakyat bahkan mengatakan hal itu bisa mendatangkan kematian. Percaya atau tidak pada bagian itu, rasa tidak nyamannya cukup nyata sehingga kebanyakan orang langsung memilih warna lain.
Merah, nama, dan orang yang telah tiada
Penjelasan yang paling sering terdengar berkaitan dengan catatan resmi. Dalam artikel penjelasan tahun 2024, Korea Herald menyebutkan bahwa banyak orang Korea merasa tidak nyaman melihat nama mereka ditulis merah karena dulu warna ini dipakai untuk nama orang yang sudah meninggal dalam daftar keluarga. Majalah daring Museum Folklor Nasional Korea juga mencatat bahwa warna merah lazim dipakai untuk menulis nama orang yang telah meninggal, juga untuk mengoreksi kesalahan.
Tradisi pemakaman pun menempatkan merah dan nama berdampingan. 명정 (myeongjeong) adalah panji panjang bertuliskan jabatan resmi dan nama marga almarhum; panji ini berada di depan peti dalam arak-arakan dan dibentangkan di atas peti saat pemakaman. Menurut Ensiklopedia Budaya Korea, panji ini secara tradisional dibuat dari kain merah dengan tulisan dari serbuk putih atau perak. Mudah dipahami kenapa nama di atas warna merah, atau nama bertinta merah, lama-lama terasa seperti milik mereka yang sudah pergi.
Legenda di balik pantangan ini
Karena tidak ada yang bisa menunjuk kapan tepatnya pantangan ini dimulai, Korea mengumpulkan beberapa kisah asal-usul. Yang paling populer melibatkan Qin Shi Huang, kaisar pertama Tiongkok. Konon ia ingin warna merah hanya untuk dirinya, sehingga menulis nama dengan warna merah dilarang dan diancam hukuman mati; gagasan ini lalu sampai ke Korea lewat hubungan dekatnya dengan Tiongkok. Majalah Museum Folklor Nasional dan Korea Herald sama-sama menceritakan ulang kisah ini, yang lebih tepat dinikmati sebagai legenda daripada sejarah yang sudah pasti.
Majalah museum itu bahkan menyampaikan kisah yang jauh lebih aneh, tentang seorang ratu Mesir kuno yang murka karena dilukis dengan warna merah, seolah-olah berlumuran darah. Bahwa sebuah museum nasional menyajikan dua versi yang begitu berbeda menunjukkan satu hal: asal-usul sebenarnya tidak pasti, dan kepercayaan ini bertahan lebih lama daripada penjelasan mana pun. Kesimpulan artikel itu sendiri cukup hangat: apa pun alasannya, orang menghindari nama bertinta merah karena berharap diri sendiri selamat dan orang-orang di sekitarnya sejahtera.
Bahasa sehari-hari ikut memperkuat suasana ini. Dalam bahasa Korea informal, orang menyebut adanya 빨간 줄 (ppalgan jul, "garis merah") pada catatan seseorang untuk menyatakan bahwa ia punya catatan kriminal. Maknanya berbeda, tapi menunjukkan bahwa tanda merah di dokumen resmi jarang berarti kabar baik.
Warna merah sendiri bukan pembawa sial
Semua ini tidak menjadikan merah warna pembawa sial di Korea. Dalam tradisi, merah justru warna yang kuat. Jimat rakyat yang disebut 부적 (bujeok) digambar dengan sinabar merah di atas kertas kuning, dan Ensiklopedia Budaya Korea menjelaskan bahwa merah berhubungan dengan darah dan api, melambangkan kehidupan, dan berkat daya api yang menyucikan, dipercaya mampu mengusir roh jahat.
Merah juga bagian dari urusan administrasi sehari-hari. Stempel nama Korea, 도장 (dojang), dicap dengan tinta stempel merah bernama 인주 (inju), dan tidak ada yang merasa aneh: stempel menegaskan sebuah nama, bukan mencoretnya. Guru menilai dengan tinta merah, penyunting mengoreksi dengan tinta merah, dan garis bawah merah ada di mana-mana. Pantangannya sempit: menulis nama, terutama nama orang yang masih hidup, dengan warna merah.
Seberapa serius orang Korea soal ini sekarang?
Percaya atau tidak pada penjelasan rakyatnya, kebiasaan ini begitu dikenal sehingga melanggarnya bisa menyampaikan pesan tertentu. Korea JoongAng Daily, dalam ulasan tentang takhayul Korea tahun 2022, menyebut menulis nama seseorang dengan warna merah sebagai hal yang sangat tidak sopan, dan Korea Herald pada 2024 mencatat bahwa banyak orang Korea masih merasa tidak nyaman dengannya. Dalam praktiknya, orang diam-diam menghindari warna merah untuk papan nama, daftar hadir, kartu tempat duduk, dan kartu ucapan.
Pantangan ini juga dipelajari sejak kecil. Majalah Museum Folklor Nasional membuka artikelnya dengan kenangan masa kecil penulisnya: teman sebangku saling mengancam akan menulis nama satu sama lain dengan warna merah dan saling protes, tanpa benar-benar tahu kenapa itu dianggap begitu buruk. Campuran setengah percaya dan drama ala anak sekolah itu merangkum pantangan ini dengan baik: banyak orang tidak akan menyebutnya ketakutan sungguhan, tetapi hampir tidak ada yang melakukannya dengan sengaja. Gagasan serupa tentang nama bertinta merah juga ada di bagian lain Asia Timur, jadi Korea tidak sendirian.
Kalau kamu berkunjung ke Korea
- Tulis nama dengan warna hitam atau biru. Kartu ulang tahun, buku tamu, papan nama, lembar pendaftaran, dan denah tempat duduk sebaiknya memakai warna gelap yang netral.
- Untuk hal lain, merah boleh saja. Koreksi, garis bawah, coretan, dan catatan berwarna merah itu normal, asalkan tidak ada nama orang di dalamnya.
- Namamu sendiri juga termasuk. Banyak orang Korea menghindari menulis nama sendiri dengan warna merah, jadi jangan tanda tangan dengan tinta merah.
- Mengajar murid dari Korea? Silakan menilai dengan tinta merah, tapi tulis nama mereka dengan warna lain.
- Kalau terlanjur, minta maaf saja dengan santai. Wisatawan biasanya mudah dimaklumi; ucapan maaf singkat dan kartu baru biasanya sudah cukup.
- Jangan pernah menjadikannya lelucon. Sengaja menulis nama seseorang dengan warna merah bisa terkesan bermusuhan, bahkan di antara teman.
Jawaban singkat
Kenapa tidak boleh menulis nama dengan tinta merah di Korea?
Karena warna merah sudah lama dikaitkan dengan nama orang yang telah meninggal, misalnya dalam catatan lama. Nama orang hidup yang ditulis merah bisa terlihat seperti mendoakan kematiannya. Kepercayaan rakyat bahkan menyebut hal itu bisa membawa sial atau kematian.
Apakah boleh memakai pulpen merah di Korea?
Boleh. Tinta merah wajar dipakai untuk koreksi, penilaian, catatan, dan penanda, dan tinta merah untuk stempel nama juga hal biasa. Yang dihindari hanya menulis nama dengan warna merah.
Warna apa yang sebaiknya dipakai untuk menulis nama orang?
Hitam atau biru adalah pilihan aman untuk kartu, formulir, dan papan nama.
Sumber
- National Folk Museum of Korea webzine — 빨간색으로 이름을 쓰면 죽는다고? (2016)
- The Korea Herald — [Korea Quiz] Korean superstitions (2024)
- Korea JoongAng Daily — [WHY] Beware fan death and evil mice doppelgangers (2022)
- Encyclopedia of Korean Culture — 명정 (銘旌, funeral banner)
- Encyclopedia of Korean Culture — 부적 (符籍, talisman)


