Ulang Tahun Korea Saat Bayi Satu Tahun Memilih Masa Depannya
Benang, uang, pensil, dan satu tangan mungil yang memutuskan. Di balik permainan ada kisah lama: rasa lega karena bayi berhasil melewati tahun pertamanya.

Bayangkan seorang bayi berusia satu tahun dalam hanbok sutra mungil, didudukkan di depan sebuah nampan. Dalam jangkauan tangannya ada segulung benang putih, sebuah pensil, selembar uang kertas yang dilipat, stetoskop mainan, dan mikrofon. Ponsel-ponsel terangkat, dan para kerabat mencondongkan badan, masing-masing diam-diam menjagokan benda yang berbeda. Lalu sebuah tangan mungil menggenggam salah satunya, dan seisi ruangan bersorak seolah ramalan nasib baru saja dibacakan.
Inilah 돌잡이 (doljabi, kira-kira "genggaman ulang tahun pertama"), puncak acara 돌잔치 (doljanchi), pesta yang digelar orang Korea saat bayi genap berusia satu tahun. Genggaman ini adalah ramalan main-main: benang berarti umur panjang, uang berarti kekayaan, pensil berarti hidup yang gemar belajar. Namun pesta ini berawal dari sesuatu yang lebih serius. Sepanjang sebagian besar sejarah Korea, mencapai ulang tahun pertama bukanlah hal yang pasti, dan perayaan ini lahir dari rasa syukur karena seorang anak berhasil melewatinya.
Kenapa tahun pertama layak dipestakan
돌 (dol) adalah hari ketika bayi genap berusia satu tahun. Kata ini berbeda dengan dol yang berarti "batu", dan sekarang juga dipakai untuk menghitung peringatan tahunan apa pun. Ensiklopedia Budaya Korea mencatat bahwa keluarga merayakan dol entah kaya atau miskin, tinggal di ibu kota atau di daerah. Alasannya muram: sebelum ada kedokteran modern, penyakit dan masa-masa sulit merenggut banyak bayi, sehingga bayi yang mencapai usia satu tahun dianggap telah melewati masa paling rawan dalam hidupnya.
Ada pula tonggak yang lebih awal: 백일 (baegil), hari keseratus kehidupan, dengan hari kelahiran dihitung sebagai hari pertama, saat bayi dianggap sudah lolos dari masa berbahaya. Pagi itu, keluarga menyiapkan meja kecil untuk 삼신 (Samsin), roh yang dipercaya menjaga bayi dan ibu, berisi nasi putih dan sup rumput laut, pasangan yang sama di balik sup rumput laut yang dimakan orang Korea saat ulang tahun. Bayi yang sampai saat itu hanya memakai pakaian putih, untuk pertama kalinya didandani dengan baju berwarna.
Lalu tibalah kue beras: 백설기 (baekseolgi) yang putih bersih untuk kesucian, dan 수수팥떡 (susu-patteok), bola-bola sorgum berbalut kacang merah, yang warna merahnya dipercaya menolak sial. Menurut Institut Nasional Sejarah Korea, orang percaya umur bayi akan lebih panjang jika kue itu dibagi kepada seratus orang, sehingga piring-piring kue diantar ke para tetangga. Piring itu dikembalikan tanpa dicuci, yang dianggap baik bagi si bayi, berisi sedikit benang, uang, atau beras sebagai doa balasan. Hitungan seratus hari ini masih hidup sampai sekarang: itulah sebabnya pasangan Korea merayakan hari ke-100 pacaran.
Kini keadaannya jauh berbeda. Menurut Statistics Korea, badan statistik resmi Korea, angka kematian bayi pada 2023 tercatat 2,5 per 1.000 kelahiran, di bawah rata-rata OECD. Meski begitu, baegil dan dol tetap bertahan, berubah dari rasa lega menjadi perayaan penuh sukacita.
Arti setiap benda dalam doljabi
Ensiklopedia Budaya Korea mencantumkan perangkat doljabi klasik beserta ramalan di balik tiap benda:
- Benang dan mi: umur panjang, sepanjang untaiannya.
- Beras dan uang: kekayaan.
- Buku, kuas, dan tinta: lulus ujian negara dan menjadi pejabat terpelajar, karier impian di zaman Joseon.
- Busur dan anak panah: karier sebagai perwira militer.
- Kurma merah (jujube): banyak anak dan cucu.
- Jarum, gunting, penggaris, dan setrika kecil: pandai menjahit. Benda-benda ini disiapkan untuk anak perempuan, sedangkan anak laki-laki mendapat busur dan pisau hias kecil.
Pembedaan antara anak laki-laki dan perempuan kini sudah banyak memudar, dan kuas sebagian besar sudah digantikan pensil. Panduan dol dari Korea.net juga mencantumkan benda-benda baru: stetoskop untuk dokter, palu hakim untuk karier di bidang hukum, mikrofon untuk dunia hiburan, mouse komputer, bola sepak atau stik golf untuk atlet. Setiap keluarga menyusun pilihannya sendiri dan menentukan sendiri artinya. Ini permainan, bukan ramalan sungguhan, dan foto momen itu biasanya lebih penting daripada hasilnya.

Doljabi seorang pangeran pada 1791
Membiarkan bayi "memilih" masa depannya adalah gagasan lama, dan bukan hanya milik Korea. Di Tiongkok abad ke-6, cendekiawan Yan Zhitui menggambarkan adat di wilayah selatan yang disebut "menguji anak": pada ulang tahun pertama, anak laki-laki disodori busur dan panah, kertas dan kuas, sedangkan anak perempuan gunting, penggaris, jarum, dan benang; lalu keluarga mengamati benda yang diraih bayi untuk menilai apakah kelak ia serakah atau jujur, bodoh atau bijak. Tiongkok masih punya versinya hingga kini, yang disebut zhuazhou.
Di Korea, doljabi bahkan tercatat dalam kronik kerajaan. Catatan Sejarah Dinasti Joseon (Joseon Wangjo Sillok) menyebutkan bahwa pada 1791, di hari ulang tahun pertama putra sekaligus pewaris Raja Jeongjo, sebuah nampan berisi mainan ditata di Jipbokheon, sebuah paviliun di Istana Changgyeonggung, Seoul. Sang bayi, mengenakan topi upacara dan jaket sutra ungu, duduk dengan sikap yang sangat tenang, tulis sang pencatat, lalu pertama-tama mengambil benang berwarna, disusul anak panah dan sebuah alat musik. Bayi itu kelak menjadi Raja Sunjo.

Meja dan hanbok mungil
Doljabi berlangsung di depan 돌상 (dolsang), meja ulang tahun pertama. Dulu meja ini penuh dengan kue beras, buah, dan kudapan manis seperti 약과 (yakgwa, kue madu), ditambah hidangan yang dipilih karena doa di baliknya: mi untuk umur panjang, baekseolgi putih dan susu-patteok merah agar anak tumbuh sehat dan terlindung dari mara bahaya. Kue beras kembali dibagikan ke tetangga, kali ini disebut 돌떡 (dol-tteok), dan sekali lagi piringnya kembali berisi uang, beras, atau benang.
Anak yang berulang tahun memakai hanbok lengkap. Anak laki-laki secara tradisional mengenakan jubah panjang tanpa lengan berwarna biru tua bernama 쾌자 (kwaeja) dan topi 복건 (bokgeon); anak perempuan memakai jaket berlengan garis-garis warna-warni, 색동저고리 (saekdong jeogori), dan rok panjang merah. Keduanya memakai sabuk panjang yang dililitkan di dada, 돌띠 (dolti), serta membawa kantong-kantong kecil. Ulang tahun pertama masih menjadi salah satu hari ketika banyak orang Korea mengenakan hanbok, selain pernikahan dan hari raya besar.
Seperti apa doljanchi sekarang
Selama beberapa waktu, doljanchi bisa terlihat seperti pesta pernikahan kecil: aula perjamuan sewaan, prasmanan, dan daftar tamu mulai dari kerabat sampai rekan kerja. Sejak itu, banyak orang tua muda justru memilih arah sebaliknya. The Korea Times melaporkan pada 2026 bahwa kumpul kecil khusus keluarga kini sudah lazim, dan sebagian keluarga cukup memesan sesi foto di studio, makan bersama kedua keluarga di restoran, atau berdonasi atas nama si bayi.
Ada dua hal yang bertahan di semua versi. Pertama, cincin emas kecil, 돌반지 (dolbanji), yang menurut The Korea Times tetap menjadi bagian wajib ulang tahun pertama, ada pesta maupun tidak. Kedua, genggaman itu sendiri. Sekecil apa pun acaranya, nampan itu hampir selalu dikeluarkan, dan semua orang menunggu tangan mungil itu bergerak.
Kalau kamu diundang ke doljanchi
- Bawalah uang tunai dalam amplop atau cincin emas kecil. Keduanya hadiah klasik untuk ulang tahun pertama.
- Ucapkan selamat kepada orang tuanya dengan 돌 축하드려요 (dol chukhadeuryeoyo, "selamat atas ulang tahun pertamanya").
- Bersoraklah apa pun yang diraih si bayi. Setiap benda adalah doa baik, jadi tidak ada pilihan yang salah, dan bayi yang menangis atau meraih dua benda sekaligus justru bagian dari keseruannya.
Jawaban singkat
Apa itu doljabi?
Doljabi adalah puncak acara ulang tahun pertama bayi di Korea. Benda-benda seperti benang, uang, dan pensil diletakkan di depan bayi, dan benda yang diraihnya, secara main-main, dianggap meramalkan masa depannya.
Apa artinya kalau bayi memilih uang saat doljabi?
Uang, seperti juga beras, secara tradisional melambangkan kekayaan. Benang berarti umur panjang, sedangkan pensil, buku, atau kuas berarti gemar belajar. Benda-benda baru membawa harapan soal karier, misalnya stetoskop untuk calon dokter.
Kenapa orang Korea merayakan 100 hari bayi?
Karena dulu banyak bayi tidak bertahan melewati bulan-bulan pertamanya. Mencapai baegil, hari ke-100, dirayakan dengan kue beras yang dibagikan ke tetangga, dan banyak keluarga masih memperingati hari itu.


