10 Oktober 2026

Ruang keluarga Korea — cerita dari orang Korea, dalam bahasamu

Makanan

Di Pasar Gwangjang, Semua Ibu Penjual Dipanggil “Bibi”

Satu kata bisa mengubah orang asing jadi keluarga. Pasar Gwangjang di Seoul, yang berusia lebih dari seabad, adalah tempat terbaik untuk mendengarnya.

Oleh Hansol · editor MARU · · 6 menit baca
Di Pasar Gwangjang, Semua Ibu Penjual Dipanggil “Bibi”
Foto: Pfc. Bo Park, 2ID PAO, US Army, Public domain / Wikimedia Commons
Mau berkunjung? Pintu keluar subway, jam buka, harga tiket, dan kartu untuk ditunjukkan ke sopir taksi ada di panduan di bawah.Cara ke sana ↓

Berdirilah semenit di dekat kios bindaetteok di Pasar Gwangjang dan dengarkan. Minyak mendesis di atas wajan datar, piring berdenting, dan setiap beberapa detik ada yang memanggil ibu yang sedang membalik panekuk: 이모! (imo!). Imo berarti “bibi”, tepatnya saudara perempuan ibumu. Orang-orang yang memanggilnya bukan keponakannya. Sebagian besar baru bertemu dengannya lima menit lalu.

Satu kata itu menjelaskan banyak hal tentang Korea. Bahasa Korea tidak punya sapaan netral seperti “sir” atau “ma'am” dalam bahasa Inggris, dan kata sehari-hari untuk “kamu” bisa terdengar dingin, bahkan kasar, bagi orang yang belum dikenal. Jadi, saat orang Korea perlu menyapa seseorang yang bukan keluarga dan tidak diketahui jabatannya, mereka meminjam kata keluarga. Perempuan paruh baya yang menyajikan makanan menjadi imo, yang lebih muda 언니 (eonni, “kakak perempuan”), pemuda yang bekerja di sana 삼촌 (samchon, “paman”), dan pemiliknya 사장님 (sajangnim, “bos”). Pasar Gwangjang di Seoul adalah salah satu tempat terbaik untuk mendengar seluruh “keluarga” ini beraksi.

Bahasa yang tak punya padanan “ma'am”

Bahasa Korea sangat bergantung pada jabatan, dari Ketua Tim Kim sampai Guru dan Dokter. Masalahnya muncul saat kamu berhadapan dengan orang yang jabatannya tidak kamu ketahui dan bukan keluarga. Dalam artikel tahun 2018 untuk jurnal Institut Nasional Bahasa Korea, ahli bahasa Chae Wan mencatat bahwa masyarakat Korea sangat peka terhadap jabatan dan memang tidak punya kata yang pas untuk orang asing tanpa jabatan. Kata-kata keluarga mengisi celah itu: kakak laki-laki, kakak perempuan, bibi, paman, nenek, kakek.

Kebiasaan ini lebih tua dari yang dikira. Sebuah kamus Korea–Prancis yang disusun misionaris Katolik Prancis dan terbit pada 1880 sudah mencatat bahwa kata lama untuk bibi, 아자먼이 (ajameoni), juga dipakai untuk perempuan di luar keluarga. Tentu ada pilihan netral: 저기요 (jeogiyo, “permisi”) dan 여기요 (yeogiyo, “di sini, ya!”). Dalam survei bahasa tahun 2024 oleh Institut Nasional Bahasa Korea, keduanya menjadi cara paling umum untuk memanggil pelayan atau petugas. Keduanya cukup ampuh. Imo ampuh dengan kehangatan.

Keluarga instan, dijelaskan
Foto: JAMIE DIAZ / Pexels

Keluarga instan, dijelaskan

Perhatikan siapa yang tidak ada: 아줌마 (ajumma). Itu kata sehari-hari untuk perempuan paruh baya, tetapi kalau diucapkan langsung di depan orangnya bisa terdengar ketus, dan justru karena itulah pelanggan tetap memilih imo. Orang Korea memakai trik yang sama dengan teman, seperti dijelaskan MARU dalam panduan tentang oppa, eonni, hyeong, dan nuna. Karena setiap kata ini membawa urusan usia, ada baiknya juga memahami cara kerja usia di Korea.

Kenapa pasar adalah wilayah keluarga
Foto: kallerna, CC BY-SA 4.0 / Wikimedia Commons

Kenapa pasar adalah wilayah keluarga

Pasar Gwangjang dibuka pada 1905, saat Jepang makin mencengkeram Korea. Sekelompok pedagang Korea mengumpulkan modal, mendirikan perusahaan, dan membuka pasar milik sendiri di Baeogae, sebuah pasar pagi lama di kawasan itu. Awalnya bernama Pasar Dongdaemun; nama Gwangjang biasanya dikaitkan dengan dua jembatan di atas Sungai Cheonggyecheon, Gwanggyo dan Janggyo. Organisasi Pariwisata Korea menyebutnya pasar permanen pertama di negeri itu, dari masa ketika sebagian besar pasar hanya buka pada hari-hari pasaran tertentu. Pasar ini hancur dalam Perang Korea lalu dibangun kembali, dan sampai kini masih menjual sutra, kain hanbok, dan perlengkapan tidur selain makanan.

Kios-kios itu awalnya memberi makan orang-orang yang bekerja di pasar, sehingga makanannya sampai sekarang tetap, seperti kata Korea Herald, makanan kaum pekerja: murah dan mengenyangkan. Kamu makan di bangku panjang yang mengelilingi meja masak, bahu-membahu dengan orang tak dikenal. Pelanggan tetap kembali ke kios yang sama selama bertahun-tahun, dan saat itulah imo bukan lagi sekadar kiasan. Sebuah artikel Korea JoongAng Daily tahun 2013 mencatat bahwa pelanggan setia rumah makan kecil menghindari kata “ajumma” dan memanggil pemiliknya “ibu” atau “bibi”, karena sayang sungguhan dan, menurut artikel itu, mungkin juga berharap dapat lauk tambahan. Di Korea, memberi makan selalu menjadi cara untuk peduli, naluri yang sama di balik sapaan “Sudah makan?”

Yang wajib dicicipi: tiga andalan dan semangkuk mi

Lalu ada efek Netflix. Pada 2019, episode Seoul dari Street Food: Asia mengambil latar Pasar Gwangjang dan menampilkan hidangan lama kesayangan, dari kepiting rendam kecap hingga sup mi potong pisau, 칼국수 (kalguksu). Sejak itu, wisatawan asing rela antre demi mi tersebut.

Kritik terhadap “imo”

Di balik kehangatannya, imo punya pengkritik. Panduan etiket Institut Nasional Bahasa Korea, Etiket Berbahasa Baku, tidak memasukkannya sebagai sapaan untuk orang di luar keluarga, dan Kamus Baku Bahasa Korea masih hanya mencantumkan arti kekeluargaan. Sebagian kolumnis Korea berpendapat kata ini membuat pelanggan melewatkan nama dan peran si pekerja, dan keakrabannya cenderung searah, dari pelanggan ke bawah. Karena itu banyak orang Korea, terutama yang muda, tetap memakai jeogiyo atau sajangnim. Usia juga berpengaruh: panggil perempuan berusia dua puluhan dengan imo, dan ia bisa saja mendengarnya sebagai “kamu kelihatan paruh baya”.

Di kios: memesan seperti pelanggan tetap

Ketenaran juga membawa sisi buruk. Keluhan soal porsi yang pelit dan harga yang kemahalan sempat menjadi berita di Korea pada 2023 dan lagi pada 2025, dan pada 2026 Pemerintah Kota Seoul dan Distrik Jongno mengirim petugas penyamar, orang Korea maupun asing, untuk memeriksa kios-kios. Pintu keluar subway yang tepat, jam buka, dan kartu taksi ada di panduan “Cara ke sana” di akhir artikel.

Jawaban singkat

Apa arti imo dalam bahasa Korea?

이모 (imo) berarti saudara perempuan ibu. Orang Korea juga memakainya sebagai sapaan hangat untuk perempuan paruh baya yang menyajikan makanan, di kios pasar atau rumah makan sederhana.

Apakah tidak sopan memanggil pelayan dengan imo di Korea?

Biasanya tidak. Di pasar dan rumah makan santai, sapaan ini terdengar akrab jika perempuan itu kira-kira paruh baya. Untuk pekerja muda atau di tempat formal, jeogiyo (“permisi”) yang netral lebih aman, dan sebagian orang Korea memang tidak suka dengan imo.

Apakah kios di Pasar Gwangjang menerima kartu?

Tidak selalu. Banyak toko dan rumah makan menerimanya, tetapi beberapa kios makanan meminta tunai atau transfer bank, jadi bawalah uang pecahan kecil.

Cara ke sana

Pasar Gwangjang 광장시장

Tunjukkan ini ke sopir taksi광장시장서울특별시 종로구 창경궁로 88
Subway (MRT)
Jalur 1, Stasiun Jongno 5-ga, Pintu Keluar 8 (beberapa menit jalan kaki); atau Jalur 2 dan 5, Stasiun Euljiro 4-ga, Pintu Keluar 4, lalu jalan ke utara menyeberangi Sungai Cheonggyecheon
Dari Bandara Incheon
AREX ke Stasiun Seoul, lalu Jalur 1 ke Stasiun Jongno 5-ga
Jam buka
Toko 9:00–18:00, tutup hari Minggu; gang kuliner 9:00–23:00, buka sepanjang tahun. Tiap kios punya jam buka sendiri
Tiket masuk
Masuk gratis. Sebagian besar hidangan kios sekitar 3.000–7.000 won; yukhoe lebih mahal
Tips
Beberapa kios hanya menerima tunai atau transfer bank, jadi bawa uang pecahan kecil dan cek harga yang terpampang. Untuk bantuan berbahasa Inggris, hubungi 1330 Travel Hotline (+82-2-1330)

Dicek pada 10 Oktober 2026. Jam buka dan harga bisa berubah, jadi cek situs resmi sebelum berangkat. Di Korea, Google Maps tidak memberi rute jalan kaki atau mobil — Naver Map atau Kakao Map lebih andal.

Sumber

Lainnya dari MARU

Tanya orang Korea

Tanya orang Korea

Penasaran soal sesuatu di Korea? Tanyakan dalam bahasamu — Hansol, editor MARU, menjawab, dan jawabannya kami muat di sini (tanpa namamu).

Jangan sertakan informasi pribadi. Pertanyaanmu bisa dimuat bersama jawaban kami, selalu tanpa namamu.

Surat dari Korea

Setiap Jumat: cerita-cerita baru minggu ini, dijelaskan oleh orang Korea — dalam bahasamu.