10 Oktober 2026

Ruang keluarga Korea — cerita dari orang Korea, dalam bahasamu

Etiket

Pipih dan dari Logam: Kisah Unik di Balik Sumpit Korea

Raja, uji racun, peralatan kuningan, dan jalan pintas pabrik ikut berperan. Plus satu kebiasaan dengan sumpit yang membuat orang Korea meringis.

Oleh Hansol · editor MARU · · 6 menit baca
Pipih dan dari Logam: Kisah Unik di Balik Sumpit Korea
Foto: 국립국어원, CC BY-SA 2.0 kr / Wikimedia Commons

Makan pertama di restoran Korea bisa jadi ujian kecil soal ketangkasan. Kamu membuka laci kecil di sisi meja, atau kotak di atasnya, lalu menemukan sendok baja tahan karat dan sepasang sumpit panjang yang pipih, juga dari baja. Lalu sehelai kimchi meluncur lepas dan jatuh lagi ke piring. Kalau kamu pernah bertanya-tanya kenapa orang Korea memilih sumpit yang rasanya paling susah dipakai di dunia, kamu tidak sendirian.

Jawaban singkatnya: orang Korea sudah makan dengan alat logam sejak lama sekali. Seorang raja abad ke-6 dimakamkan bersama sendok dan sumpit perunggu, dan selama berabad-abad perangkat perak dan kuningan menjadi barang mewah di istana dan rumah orang berada. Sumpit pipih dari baja tahan karat yang ada di meja sekarang jauh lebih muda, lahir dari pabrik-pabrik tahun 1960-an dan 1970-an. Di antara keduanya ada legenda terkenal soal racun, banyak kuningan yang digosok dengan tangan, dan satu aturan makan yang dianggap serius oleh semua orang Korea.

Lima belas abad logam di meja makan

Sumpit logam tertua yang diketahui di Korea berasal dari makam Raja Muryeong, yang memerintah Kerajaan Baekje pada 501 sampai 523. Ketika makam itu ditemukan secara tidak sengaja pada 1971, di dalamnya ada tiga sendok dan dua pasang sumpit perunggu. Menurut Korea JoongAng Daily, panjang sumpit itu 21,2 dan 19,6 sentimeter, dan bentuknya sudah pipih, dengan cincin di ujungnya supaya tiap pasang bisa disambung dengan rantai.

Namun, sepanjang sebagian besar sejarah, alat makan logam adalah simbol status, bukan barang sehari-hari. Museum Nasional Korea menyimpan sendok dan sumpit perak yang menurut tradisi berasal dari makam Injong, raja Goryeo abad ke-12; sumpitnya lama dikira perunggu, sampai analisis menunjukkan bahwa di balik lapisan korosinya ada perak. Pada awal dan pertengahan Dinasti Joseon, sumpit terutama dipakai keluarga kerajaan dan kalangan atas, sementara banyak rakyat biasa makan nasi dan sup dengan sendok. Dalam tulisannya untuk Badan Warisan Budaya Korea, arkeolog Jeong Ui-do mencatat bahwa sendok ditemukan di hampir semua makam awal Joseon, tetapi sumpit menyertainya di kurang dari 30 persen kasus. Sumpit baru umum dipakai pada akhir Joseon, ketika menu makin beragam dan lauk pendamping makin banyak. Pada abad ke-18, lukisan Kim Hong-do berjudul Makan Siang sudah memperlihatkan para pekerja makan dengan keduanya.

Uji racun: setengah legenda, setengah kimia
Foto: Hoangkid, CC BY-SA 3.0 / Wikimedia Commons

Uji racun: setengah legenda, setengah kimia

Tanyakan kenapa sumpit Korea terbuat dari logam, dan pasti ada yang menyebut soal racun. Ceritanya, para raja makan dengan alat perak karena perak berubah warna saat menyentuh makanan beracun. Ada sedikit kimia di baliknya: perak menghitam saat bereaksi dengan belerang, dan racun arsenik zaman dulu sering mengandung pengotor belerang, jadi alat makan perak kadang memang bisa memberi peringatan. Racun yang lebih murni akan membiarkannya tetap mengilap, karena itulah Korea JoongAng Daily menyebut kepercayaan ini hanya benar sebagian.

Lagi pula, perak para raja tidak menjelaskan kenapa semua orang lain makan dengan baja. Untuk itu, kita perlu melihat isi lemari dapur keluarga Korea.

Dari kuningan ke baja tahan karat

Selama beberapa generasi, peralatan makan paling berharga di rumah Korea terbuat dari kuningan, yang disebut 유기 (yugi) atau 놋그릇 (notgeureut, peralatan makan kuningan). Indah, berat, berwarna keemasan yang hangat, dan harus terus digosok karena kuningan mudah kusam. Setelah Perang Korea, rumah-rumah di seluruh negeri mulai memakai 연탄 (yeontan, briket batu bara) sebagai pemanas. Cerita yang umum beredar, asap briket membuat kuningan makin cepat menghitam, dan keluarga-keluarga dengan senang hati menggantinya dengan sesuatu yang baru: baja tahan karat, yang murah, ringan, tidak berkarat, dan mudah dicuci.

Seiring industrialisasi tahun 1960-an dan dimulainya produksi baja tahan karat di dalam negeri, sumpit pipih dari bahan itu muncul dan cepat menyebar. Kini sumpit ini menjadi standar di sebagian besar rumah dan restoran Korea, hampir selalu berpasangan dengan sendok yang serasi.

Lalu kenapa pipih?

Sumpit Korea tidak selalu pipih. Sumpit perak dari masa Goryeo di Museum Nasional bentuknya bulat, dan sebuah studi tentang peralatan istana yang dikutip Korea JoongAng Daily menemukan sumpit istana yang pipih, membulat, maupun bersudut. Sumpit pipih yang seragam terutama adalah keputusan pabrik. Seorang produsen sumpit Korea mengatakan kepada surat kabar itu bahwa memotongnya dari lembaran logam adalah cara paling efisien untuk produksi massal.

Bentuk ini bertahan karena cocok dengan cara orang Korea makan. Satu kali makan biasanya disertai beberapa banchan, lauk pendamping kecil-kecil, dari sayuran berbumbu yang licin sampai ikan bakar, dan ujung sumpit Korea biasanya kasar atau bergerigi supaya bisa menjepitnya. Baja tidak aus, tidak bengkok, tidak menyerap saus, tahan dicuci berkali-kali, dan sepasang sumpit pipih tidak menggelinding dari meja. Kebersihan sering disebut sebagai alasannya, tetapi itu lebih cocok sebagai kelebihan modern daripada asal-usul.

Sujeo: sendok mengerjakan separuh tugasnya

Di Korea, sumpit jarang tampil sendirian. Sumpit menjadi bagian dari 수저 (sujeo), pasangan 숟가락 (sutgarak, sendok) dan 젓가락 (jeotgarak, sumpit). Yang membedakan Korea dari tetangganya adalah sendok tidak hanya untuk sup: nasi pun secara tradisional dimakan dengan sendok, dan sendok serta sumpit berdampingan sepanjang makan, sendok untuk nasi, sup, dan rebusan, sumpit untuk lauk. Jeong Ui-do mengaitkannya dengan sup: sejak masa Goryeo, sup begitu penting dalam hidangan Korea sehingga tanpa sendok orang hampir tidak bisa makan.

Sendok begitu penting sampai masuk ke dalam bahasa. Dalam 한술 (hansul, “sesendok”), sul adalah kata lama untuk sendok. Dan sejak pertengahan 2010-an, anak muda Korea membagi nasib keluarga menjadi 금수저 (geumsujeo, “sendok emas”) dan 흙수저 (heuksujeo, “sendok tanah”), plesetan dari ungkapan bahasa Inggris tentang lahir dengan sendok perak di mulut.

Jangan pernah menancapkannya di nasi

Kalau ada satu aturan yang pasti disebut setiap orang Korea, inilah dia: jangan pernah membiarkan sendok atau sumpit berdiri tegak di semangkuk nasi. Alasannya ada pada 제사 (jesa), upacara yang diadakan keluarga Korea untuk menghormati leluhur. Dalam salah satu tahapnya, yang disebut 삽시정저 (sapsi-jeongjeo, “menancapkan sendok, merapikan sumpit”), sendok ditancapkan tegak di mangkuk nasi dan sumpit diletakkan dengan rapi. Menurut Advanced Center for Korean Studies, lembaga kajian Korea di Andong, tahap ini bagian dari rangkaian upacara bernama 유식 (yusik), yang berarti mempersilakan leluhur bersantap. Banyak orang juga bilang sumpit yang berdiri tegak mirip batang dupa.

Jadi, sendok yang tertancap di nasi pada makan biasa terlihat seperti hidangan untuk orang yang sudah meninggal. Meja upacara bahkan membalik tata letak sehari-hari dari sudut pandang leluhur, sementara orang yang masih hidup menaruh nasi di kiri dan sup di kanan. Seperti menulis nama orang yang masih hidup dengan tinta merah, ini gerakan kecil yang meminjam bahasa kematian, dan justru karena itulah orang Korea menghindarinya.

Kenapa mangkuk tetap di meja
Foto: 국립국어원, CC BY-SA 2.0 kr / Wikimedia Commons

Kenapa mangkuk tetap di meja

Orang yang akrab dengan tata krama makan Jepang atau Tiongkok kadang memperhatikan bahwa orang Korea tidak mengangkat mangkuk nasinya. Di Jepang, memegang mangkuk dekat dada adalah cara makan yang sopan; di Korea, mangkuk nasi dan sup secara tradisional tetap di atas meja. Tidak ada yang lebih benar: alatnya berbeda, jadi tata kramanya pun berbeda.

Sendok menjelaskan banyak hal: dengan sendok bergagang panjang, mangkuk tidak perlu didekatkan ke mulut. Mangkuk kuningan yang berat juga berperan, karena menghantarkan panas begitu baik sehingga mangkuk berisi nasi atau sup panas sulit dipegang, seperti dicatat surat kabar Korea Financial News dalam artikel terbaru tentang kebiasaan ini. Selain itu, banyak orang Korea tumbuh dengan mendengar bahwa makan sambil memegang mangkuk terlihat seperti pengemis. Kini aturannya lebih longgar, dan jarang ada yang keberatan kalau kamu memiringkan mangkuk mi saat makan santai, tetapi di jamuan formal mangkuk tetap di meja.

Di meja makan Korea

Memanggang daging di meja punya tata kramanya sendiri; panduan kami tentang etiket makan BBQ Korea menjelaskannya.

Jawaban singkat

Kenapa orang Korea memakai sumpit besi?

Korea punya sejarah panjang alat makan logam, dari perunggu abad ke-6 sampai perak dan kuningan zaman Joseon. Sejak 1960-an, baja tahan karat yang murah dan awet mengambil alih dan menjadi standar sehari-hari.

Kenapa sumpit Korea pipih?

Sumpit Korea zaman dulu bentuknya bermacam-macam. Sumpit baja tahan karat masa kini pipih terutama karena memotongnya dari lembaran logam adalah cara termudah untuk produksi massal; selain itu, sumpit pipih tidak menggelinding.

Kenapa tidak boleh menancapkan sumpit di nasi di Korea?

Karena dalam jesa, upacara penghormatan leluhur, sendok ditancapkan tegak di nasi untuk mempersembahkan makanan kepada arwah. Melakukannya saat makan biasa terlihat seperti menyajikan makanan untuk orang yang sudah meninggal.

Sumber

Lainnya dari MARU

Tanya orang Korea

Tanya orang Korea

Penasaran soal sesuatu di Korea? Tanyakan dalam bahasamu — Hansol, editor MARU, menjawab, dan jawabannya kami muat di sini (tanpa namamu).

Jangan sertakan informasi pribadi. Pertanyaanmu bisa dimuat bersama jawaban kami, selalu tanpa namamu.

Surat dari Korea

Setiap Jumat: cerita-cerita baru minggu ini, dijelaskan oleh orang Korea — dalam bahasamu.